Tuhan tahu koq, siapa yang salah dan siapa yang benar. siapa pelaku, siapa korban. tidak usah takut dengan omongan orang yang tidak benar mengenai kamu. Tuhan adalah hakim diatas segala hakim. orang tidak punya hak menghakimimu, begitu juga kita tidak berhak menghakimi orang lain.
memang sih, ketika aku ditantang untuk mengampuni rasanya berat. "mengapa orang seperti ini harus aku ampuni? bahkan dialah orang yang membuat segala mala petaka dalam hidupku datang. dimana aku sedang menikmati indahnya masa kuliah, tetapi dia merusak segalanya!" tapi tetap, aku di tantang untuk mengampuni dan mendoakan mereka.
"mengampuni bukan pakai perasaan, karena jelas sudah sakit. tapi mengampuni itu keputusanmu untuk diampuni oleh Tuhan. mengampuni itu bukan untuk dia, tapi untuk dirimu sendiri. setiap perkataan negatif yang menusuk hatimu, itu karena kamu yang mengijinkannya sendiri untuk masuk ke dalam relung hatimu lalu terluka dan sakit. semua itu keputusanmu. mengampuni, atau mengabaikan. itu keputusanmu." kata-kata dari pendeta muda itu terus terngiang di telinga.
oke, aku putuskan untuk mengampuni, karena aku ingin merasakan damai sukacita dari Tuhan. aku ingin hatiku dimerdekakan, lepas dari segala kepahitan yang ada. setelah doa, tidak ada yang berubah. masalah tetap masalah. tapi aku diuji Tuhan bagiamana perkataan harus sesuai dengan komitmen. aku sudah berkomitmen untuk mengampuni mereka. beraaaaaaaaaaaaaattt rasanya untuk menyapa mereka, apalagi aku dituntut untuk menghormati dia.
tapi janji Tuhan itu iya dan amin. aku bukan sukacita karena dia dapat ganjaran, tetapi aku sukacita bahwa akhirnya aku menyadari kembali tentang perlindungan Tuhan dalam hidupku. so, hati-hati kawan dalam berbuat. apalagi jangan kamu seenaknya mempermainkan biji mata Tuhan. ga enak loh dampaknya. saya tidak akan membalas anda, karena saya punya Tuhan yang luar biasa yang mampu untuk menolong, memperhatikan, dan melindungiku setiap saat.
No comments:
Post a Comment