Monday, June 9, 2014

Kucinta Kau, Bapa

Dalam setiap kesesakan, aku selalu terlebih dahulu mencari manusia. entah itu teman komsel, pembina, teman komit, yang pasti orang-orang yang aku harap mereka bisa membuatku lebih tenang dan menemukan jawabannya. Akan tetapi, itu semua salah fatal. Mau sampai kapanpun aku tidak akan menemukan kepuasan.

Malam itu aku bermimpi hal yang sangat menyebalkan, sangat sangat sangat menyebalkan! membuat hariku begitu buruk dan tidak mau melakukan apapun.
              Di mimpi itu, aku mendengar kumpulan orang sedang membicarakan ayahku, "Pak Bobby masih hidup!"
             Aku terkejut, aku tanya kepada mereka yang tidak aku kenal. "Dimana papah!? Aku merindukannya!" aku teriak begitu keras, mereka menunjukkan arahnya kemana aku harus menemukan ayahku.
           "Pak Bobby masih hidup!" teriakan itu kembali terdengar.

             Aku semakin gusar dan emosiku tak terkendali. aku menangis sekencang-kencangnya dan kembali berteriak, "Papah dimana? Cella kangen, mau ketemu papah!" aku berlari tetapi aku tidak menemukannya.

Memang akhir-akhir ini aku merindukan Ayah. Padahal di usiaku yang sudah memasuki dewasa awal, sudah tidak perlu lagi suapan dari seorang ayah, kemana-mana harus diantar, aku sudah bisa melakukannya sendiri dan aku sudah terbiasa dengan kemandirianku. Mau pulang jam berapapun itu adalah keputusanku. Aku besar dengan segala sesuatu menurut keputusanku sendiri.

Malam berikutnya, aku masih tidak terima dengan mimpiku. "Papah kenapa sih, bisa-bisanya ninggalin Cella gitu aja? kenapa Papah harus pergi?" keadaan akhir-akhir ini yang membuatku begitu menyadari bahwa aku butuh pengarahan seorang ayah, dan aku tidak mendapatkan akan hal itu.

Tetapi dari mimpi itulah Tuhan mau mengajarkanku bahwa Tuhan mau aku datang kepada Dia dengan kerinduan yang begitu besar. Bahkan seolah-olah aku menemukan Dia adalah sebuah momen yang tidak bisa begitu saja bisa aku lewatkan. Iya, betul. Bagaimana rasanya kamu merindukan seseorng yang tidak pernah bisa kamu temui? Aku merindukan komsel, aku tinggal hubungi mereka dan ajak ketemuan. tetapi dengan ayah? tidak bisa sama sekali. Aku hanya bisa membayangkan bagaimana wajahnya, tawanya, tegurannya, bahkan pukulannya. tetapi semua hanyalah khayalan , "seandainya Papah ada disini."

seketika itu juga aku terluka.

Masalah masih sama, kondisi masih sama, dan aku lelah. Lelah untuk terus mau mengerti orang lain, lelah untuk terus mengalah, lelah untuk berkorban, lelah untuk tidak dianggap dan terlalu jengah untuk melihat segala sesuatu yang tidak berubah.

Aku bilang pada Tuhan, "Tolong kasih aku seseorang untuk memelukku dan mendoakanku sekarang juga. Aku sedang butuh pertolongan!" dengan isakan tangis dan tidak ada siapapun yang melihat dan mendengarnya. Seorang Marcella yang tampil apa adanya, sisi yang tak seorangpun pernah melihat terlebih rasakan.

               Malam itu tak seorangpun yang datang, dan aku semakin merasa terpuruk. "No one loves me, anymore." dan aku kembali mengasihani diri.
               Tapi aku bisa merasakan hal yang lain pada malam itu, Tuhan memelukku dengan kasihnya dan begitu lemah lembut. Tuhan bilang, "Mau enggak, kamu sembuh?"
                Aku tidak bisa menjawab apa-apa. akan tetapi malam itu menjadi sebuah pembelajaran bahwa hanya Bapa yang bisa membuatku sembuh. Tidak ada seorangpun yang mengerti apa yang aku alami dan rasakan, disitulah aku tahu bahwa Tuhan sedang bersama-sama dengan aku.

Mungkin kalau aku jadi Tuhan akan capek untuk dengar masalahku yang selalu sama dan tidak berubah, tetapi Tuhan tidak pernah lelah untuk hidupku. Dia dengan sabarnya mendengar apa yang aku gumulkan, dan Dia adalah satu-satunya pribadi yang tidak pernah menghakimiku, karena Dia yang paling tahu jalan hidupku.

Demikian hal lainnya yang sedang aku rintis bersama Tuhan adalah menciptakan lagu rohani. saat-saat itulah yang membuatku merasa tidak ada hal lain yang layak untuk aku cintai, kagumi, kasihi, selain Tuhan.

Lebih tepatnya, aku tidak menciptakannya. Karena aku menyanyikan ini ketika aku berdoa dan bermazmur. Ini adalah bukti dari Tuhan bekerja dalam hidupku melalui lagu yang aku nyanyikan.
terimakasih :)

lirik:

kuhidup dalam kasih
dimana kutinggal tetap
semasa kuaman dalam pelukanMu
reff :
kubersyukur, kubersuka
kucinta Kau lebih dari yang ada
kubersyukur, kubersuka
kucinta Kau lebih, lebih dari yang ada
Bapa~

brigde : 
Kau Allah yang sabar
Kau Allah yang setia
dalam hidupku~


link:
https://soundcloud.com/marcellaevalie/ku-cinta-kau-bapa













Saturday, April 26, 2014

do you see me?

aku hanya bisa melihatmu dari jauh setiap minggu, mungkin tak ada seorangpun yang menyadarinya. Tapi yang pasti, aku sangat merindukanmu, sesering aku berfikir akan bagaimana melihat dan menata masa depan. Aku telah lelah untuk jatuh cinta, akupun harap perasaan ini hilang begitu saja. Sudah berapa kali aku meyakinkan diri bahwa aku tidak merasakan apapun terhadapmu, tetapi aku tidak bisa bohong.
Rasanya sama seperti aku jatuh cinta sebelumnya. Gugupnya, salah tingkahnya, tetapi yang berbeda kali ini adalah benar-benar aku yakin bahwa aku telah menyerahkanmu pada Tuhan. 

Saat kamu ada disebelahku dan berkata banyak hal, aku hanya bisa menjawab semampuku. Tak tahukah kamu bahwa di dalam jantungku ini sedang berperang? antara senang juga takut. Senang karena kamu ada disisiku juga takut kalau kamu salah menilai tentang aku. Matamu bisa berbicara banyak mengenai apa yang telah terjadi dalam hari-harimu. aku tidak mau kamu lelah menjalani hari-harimu. Senyummu bisa mengubahkan keadaan, alangkah indahnya jika kamu berdoa. Pemikiranmu tajam, tapi aku yakin hatimu juga lembut. Kamu bisa masuk kepada relung hatiku tanpa menyakitinya. Kamu pendengar yang baik dan tidak menghakimi siapapun juga. 

Bukan permasalahan aku begitu mengagumimu. Akan tetapi, aku kagum kepada Tuhan, bisa-bisanya Dia menciptakan pria sepertimu. Aku yakin hidupmu begitu indah, mungkin tanpa diriku. Ataupun dengan aku, aku akan menolongmu agar hidupmu jauh lebih indah. Kini aku kembali remaja ketika mengenal kamu. Menjalani romantika cinta seperti anak ingusan. Hanya bisa memantaumu, tidak berani mendekatimu. tapi percayalah, ketika kamu mendekat tidak ada alasan untuk aku menolak. Ini hanya masalah waktu yang tepat sesuai dengan yang Tuhan tetapkan. 

Aku tidak bisa banyak menolongmu, akan tetapi aku selalu berdoa setiap malam untuk kamu, untuk segala kehidupanmu, pelayananmu, pekerjaanmu, keluargamu, juga segala apa yang sedang kau gumulkan. terkadang aku merasa bahwa aku bukan yang terbaik untukmu, mungkin kamu butuh wanita yang jauh lebih keibuan, mengayomi, dsb. sedangkan aku hanya bisa menjadi sahabatmu terlebih banyak merepotkanmu dan menjahilimu setiap saat. 

Baru kali ini aku jatuh cinta yang diawali oleh persahabatan. Aku suka cara kamu memujiku, mengejekku, membelaku, bahkan mengkritikku. Apappun yang kamu lakukan membuatku merasa diakui, aku merasa ada. kalau orang akan bilang fokus dulu terhadap Tuhan dan kuliahku, aku akan melakukannya. Karena aku bisa merasakannya. Merasakan bahwa kamu juga memantauku dari jauh walaupun dalam keadaan kita tidak dalam satu perkumpulan yang sama. 

Senang ketika Tuhan memberikan aku kesempatan untuk menolongmu secara tidak langsung. Tuhan mengabulkan doaku untuk belajar menjadi penolong bagimu. Bagaimana aku bisa membangun imanmu kembali, menyemangatimu kembali. Oke, mungkin ada kalanya kamu penasaran dan melihat blog ini, aku cuma mau bilang mungkin terlihat berlebihan, tetapi memang begini adanya aku untuk kamu. terlepas dari kamu akan tetap menjadi masa depanku atau tidak. Tulisan ini menjadi kesaksianku bahwa Tuhan begitu baik, bagaimana Dia memprosesku mempunyai hati yang murni dan tidak pernah lelah mendoakanmu. Tuhan mengajarkanku iman yang lain. Iman untuk orang-orang yang Tuhan taruh dalam diriku untuk didoakan. Salah satunya kamu. 

miss u, Mr. INFJ.