Jadi, ini ceritanya sahabat jadi cinta, seperti lagu zigas yang diciptakan beberapa tahun silam. Awalnya, aku tidak pernah mengerti apa rasanya jadi zigas jika jatuh cinta terhadap sahabat sendiri. dan aku memang tidak pernah merasakannya. aku rasa semuanya baik-baik saja selama aku bersahabat dengan lawan jenis.
Ada satu masa, aku merasa membutuhkan dia. Dia orang yang mendukungku penuh, dia berorientasi jelas dan melakukan banyak hal untuk hampir semua orang. Dia orang yang sering lupa akan kepentingan dirinya. Kasihnya kadang tidak mendidik dan mencelakakan diri sendiri. Terkadang juga, pengorbanannya sia-sia karena tidak penuh pertimbangan dalam hal menolong. Oke, itu dia. seorang sahabatku, yang selalu mendukungku untuk banyak hal, orang yang paling tahu aku bisa apa dan suka apa, bahkan beberapa bakat yang aku tidak sadari dia memperhatikannya.
Sungguh tak terbesit sedikitpun untuk hal ini. Seperti mimpi, ini hanyalah dongeng. Aku bisa-bisanya punya pemikiran yang aneh ini, Oh, tidak! Tiba-tiba suatu hari dia menyanggupi untuk inisiatif duduk disebelahku dan menanyakan banyak hal. Aku dengan fleksibelnya bisa tertawa girang dan bahkan masih bisa mengejeknya dengan berbagai hal namun dia hanya tersenyum. Dalam pikiranku berkata, "ada sesuatu yang aneh di antara aku dengan dia." apanya yang aneh? ya, tidak tahu, tapi yang pasti ada sesuatu yang mengganjal dan aku tidak bisa menjelaskannya.
Beberapa waktu lalu aku mengatakan pada teman-temanku bahwa aku tidak mungkin ada urusan yang lebih dalam daripada ini. Secara fisik dia bukan tipeku, tapi apa daya kalau pada realitanya dia yang selalu ada untukku dan melakukan banyak hal untukku? apa dayaku jika dia berhasil mengambil hati dari memperlakukanku apa yang aku suka? Aku tidak berkutik.
Cara pendekatannya umum seperti pria biasanya, namun aku bisa rasakan ini adalah proses yang lambat tapi pasti mengenai kisah percintaan ini dan hanya bisa menghitung berapa kecepatan jantung dan disamakan dengan pemikiran logisku bahwa diantara aku dan dia tidak ada apa-apa. namun mengapa sekelilingku berkata lain? beberapa dari antara mereka mempunyai persepsi yang berbeda terhadap hubungan kami. Aku malu untuk hal ini, aku tidak mau mereka mengungkapkannya kepada umum. Aku diawali oleh benar-benar dengan motivasi berteman. Aku tidak mau merusakan persahabatan ini oleh sebuah perasaan yang akan mudah hilang begitu saja (mungkin).
No comments:
Post a Comment